MAROS – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,Kabar wafatnya John Tobing, pencipta lagu legendaris “Darah Juang”, membawa duka mendalam bagi dunia pergerakan buruh dan aktivis kemanusiaan di Indonesia. Almarhum menghembuskan napas terakhir pada Rabu (25/2) malam di RS Akademik UGM, Yogyakarta, meninggalkan jejak perjuangan yang tak akan lekang oleh waktu.
Atas kabar tersebut, Abhel Abu Fayyadh Faruq selaku Direktur PT. Media 212 Group dan mewakili Keluarga Besar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) 212 Maros, sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Maros, menyampaikan rasa kehilangan yang begitu mendalam. Ia menegaskan bahwa wafatnya John Tobing bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan sahabat dekatnya, tetapi juga kehilangan besar bagi seluruh kaum pergerakan, khususnya keluarga besar Federasi Serikat Perjuangan Buruh Indonesia (FSPBI) Maros.
“Secara pribadi, saya merasa sangat sedih dan kehilangan atas berpulangnya Bung John Tobing. Beliau bukan sekadar musisi, melainkan sosok pejuang yang menyuarakan jeritan rakyat melalui karya-karyanya. Lagu ‘Darah Juang’ telah menjadi napas perjuangan bagi buruh dan rakyat kecil dalam menuntut keadilan,” ujar Abhel.
Menurutnya, “Darah Juang” bukan hanya sebuah lagu, tetapi simbol semangat, solidaritas, dan keberanian. Lagu tersebut kerap berkumandang dalam berbagai aksi perjuangan, menjadi penguat mental dan penyatu barisan ketika para buruh menyuarakan hak-haknya di depan gerbang pabrik maupun di ruang-ruang publik.
Abhel juga menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar FSPBI Maros serta seluruh elemen gerakan yang merasakan kehilangan atas wafatnya sang komposer. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.
Lebih lanjut, Abhel mengajak seluruh pengurus dan anggota FSPBI Maros untuk tetap melanjutkan perjuangan yang telah dirintis dan diwariskan oleh almarhum. Ia menekankan bahwa warisan terbesar John Tobing bukan hanya pada nada dan lirik, tetapi pada nilai konsistensi dalam membela kaum tertindas tanpa pamrih.
“Kepergian beliau tidak boleh membuat semangat kita surut. Justru ini menjadi momentum untuk semakin memperkuat solidaritas dan komitmen perjuangan. Teruskan langkah dengan cara-cara yang bermartabat, konstitusional, dan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tegas Abhel.
Ia juga menambahkan bahwa perjuangan buruh membutuhkan keteguhan dan persatuan. Karya-karya almarhum harus tetap dirawat, dikumandangkan, dan dijadikan energi moral dalam setiap gerakan. Dengan demikian, semangat yang ditanamkan melalui “Darah Juang” akan terus hidup dan menginspirasi generasi berikutnya.
Kepergian John Tobing meninggalkan warisan abadi bagi demokrasi dan perjuangan hak-hak rakyat di Indonesia. Meski raganya telah tiada, suara perjuangannya diyakini akan terus bergema di setiap barisan aksi dan ruang-ruang advokasi. Bagi FSPBI Maros dan seluruh elemen gerakan, semangat itu tidak akan pernah padam—karena perjuangan sejati tidak berhenti pada satu sosok, tetapi terus hidup dalam setiap langkah yang dilandasi keadilan dan keberanian.






















