MAROS, 4 Oktober 2025 — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, melakukan ziarah penuh khidmat ke makam ulama besar Sulawesi Selatan, Syekh Djamaluddin Assegaf Al-Khalwaty atau yang akrab dikenal Puang Ramma, di Desa Tambua, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sabtu (4/10/2025) sekitar pukul 11.00 WITA.
Kedatangan Menteri Agama bersama rombongan disambut hangat oleh para ulama, tokoh agama, dan keluarga besar Ahlul Bait Maros, dzurriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW yang telah berkumpul sejak pagi hari. Mereka menyambut ziarah tersebut dengan penuh penghormatan, menjadikannya momen bersejarah yang sarat makna spiritual dan kebangsaan.
Ulama Besar dan Mursyid Tarekat Khalwatiyah
Syekh Djamaluddin Assegaf Al-Khalwaty, atau Puang Ramma, lahir di Kabupaten Maros pada tahun 1919. Sejak muda, beliau dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dalam ilmu agama dan tasawuf. Beliau menimba ilmu dari banyak ulama besar di Sulawesi Selatan hingga kemudian dikenal sebagai mursyid ke-12 Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary, salah satu tarekat tertua dan berpengaruh di Indonesia.
Dalam kiprahnya, Puang Ramma berperan penting dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Sulawesi Selatan, menjadikan organisasi keagamaan tersebut berkembang pesat di kawasan Bugis-Makassar. Beliau adalah simbol ulama yang menggabungkan ilmu syariat, hakikat, dan akhlak, serta memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter Islam yang moderat dan beradab di Nusantara bagian timur.
Pernah Terjun ke Dunia Politik, Lalu Kembali ke Jalan Dakwah
Selain dikenal sebagai ulama dan mursyid, Puang Ramma juga pernah aktif di dunia politik pada masa awal kemerdekaan. Namun, beliau kemudian memilih meninggalkan politik praktis dan sepenuhnya mengabdikan diri di dunia pendidikan, dakwah, dan bimbingan spiritual.
Puang Ramma membangun jejaring keilmuan dan keagamaan yang luas, mengajarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Murid-murid dan pengikutnya tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, bahkan hingga ke Kalimantan dan Maluku.
Keturunan Rasulullah SAW yang Terjaga di Maros
Yang menjadikan sosok Puang Ramma semakin istimewa adalah garis keturunannya yang bersambung langsung hingga Rasulullah SAW melalui jalur keluarga besar Assegaf, salah satu marga keturunan Arab Hadhramaut yang dikenal sebagai dzurriyah Nabi Muhammad SAW.
Puang Ramma memiliki nama lengkap Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Al-Khalwaty Qaddasallahu Sirrah, dan dikenal sebagai pemegang sanad ke-43 dari Rasulullah SAW.
Beliau menerima silsilah tarekat dan sanad keilmuan dari gurunya, Syekh Sayyid Abdul Malik Assegaf Puang Rabba, yang bersambung melalui Sayyid Ibn Hajar Assegaf Petta Sese, Sayyid Hasan Assegaf Petta Bobba, Sayyid Ali Zainuddin Petta Tila, hingga Sayyid Abdul Gaffar Assegaf, dan terus bersambung ke Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.
Keturunan Puang Ramma hingga kini masih eksis dan berkembang luas di Kabupaten Maros, dengan marga Assegaf dan Syarifah. Mereka dikenal menjaga tradisi keulamaan, keilmuan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur mereka. Salah satu pusat keluarga besar ini berada di Jalan Bambu Runcing Dusun Kassi, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang hingga kini menjadi tempat berkumpulnya dzurriyah dan murid-murid beliau.
Warisan Spiritual dan Penghormatan Negara
Ziarah yang dilakukan Menteri Agama ini tidak hanya bentuk penghormatan kepada seorang ulama besar, tetapi juga pengakuan negara terhadap kontribusi ulama tarekat dan keturunan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Islam di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam kesempatan tersebut menyampaikan rasa takzimnya atas jasa dan keteladanan Puang Ramma. “Beliau bukan hanya ulama besar, tapi juga penjaga nilai-nilai spiritual dan budaya Islam yang penuh kasih. Maros patut berbangga memiliki sosok seperti beliau,” ujarnya.
Dengan ziarah ini, pemerintah berharap warisan keilmuan, keteladanan, dan dakwah Puang Ramma dapat terus dilestarikan oleh generasi penerus, agar nilai-nilai Islam yang damai dan berakhlak mulia tetap hidup di tengah masyarakat.


























