MAROS — Komando Daerah (Kodau) II TNI Angkatan Udara terus memaksimalkan proses pembangunan Sentra Penyiapan Pangan Gizi (SPPG) di Jalan Garuda, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Fasilitas ini dihadirkan sebagai bagian dari dukungan TNI AU terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak serta mempercepat penanganan stunting secara nasional.

Asisten Teritorial Kodau II, Kolonel Nav Endra Prasetyawan, menyampaikan bahwa pembangunan SPPG merupakan wujud nyata komitmen TNI AU dalam memperkuat ketahanan gizi masyarakat. Selain Maros, Kodau II juga tengah membangun fasilitas serupa di kawasan Saudising, Kota Makassar.
“SPPG menjadi salah satu bentuk kontribusi TNI AU dalam mendukung program pemerintah terkait pemenuhan gizi anak Indonesia. Dua lokasi yang kami kerjakan saat ini telah memasuki tahap pembangunan sesuai rencana,” ujar Kolonel Endra.

Target penyelesaian yang semula ditetapkan Desember kini dimutakhirkan menjadi akhir Januari. Kodau II memastikan seluruh fasilitas siap beroperasi dalam periode yang sama.
2.500 Penerima Manfaat Sesuai Standar BGN
Kolonel Endra menjelaskan, masing-masing SPPG dirancang untuk melayani 2.500 penerima manfaat, berdasarkan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN). Sasaran penerima mencakup anak usia sekolah mulai tingkat TK sampai SMA, serta ibu hamil dan ibu menyusui.
“Pendataan awal sudah kami lakukan. Namun verifikasi final tetap mengacu pada hasil dari Korwil BGN wilayah Maros,” jelasnya.
Fasilitas di Makassar maupun Maros akan melayani warga di wilayah sekitar lokasi SPPG untuk memaksimalkan jangkauan dan efektivitas program.
Proyek Dikebut 40–50 Hari
Pelaksana pembangunan dari PT Makmur Bahagia Sejati, Muhammad Rais, menyampaikan bahwa pekerjaan konstruksi ditargetkan selesai dalam kurun 40–50 hari.
“Kami optimistis pertengahan Januari seluruh proses pembangunan fisik bisa dirampungkan, sehingga akhir Januari fasilitas dapat mulai beroperasi,” ujarnya.
Layanan SPPG nantinya akan dibuka secara bertahap:
Minggu pertama: 1.000 penerima manfaat
Minggu kedua: 1.500 penerima
Selanjutnya hingga mencapai kuota penuh 2.500 penerima
Kodau II juga berencana mengusulkan peningkatan kapasitas hingga 3.000 penerima manfaat, karena fasilitas telah memenuhi standar sertifikasi operasional.
Untuk wilayah Maros, SPPG diproyeksikan menjangkau sekitar 15 sekolah di sekitarnya.

Dampak Ekonomi Lokal dan Keterlibatan Masyarakat
Keberadaan SPPG turut memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar. Sedikitnya 47 relawan lokal direkrut untuk mendukung operasional harian. Selain itu, BGN menyiapkan tiga tenaga inti, yaitu kepala SPPG, analis gizi (alikisi), dan staf administrasi keuangan.
“Kami memberdayakan SDM lokal dengan batas usia hingga 50 tahun. Untuk posisi administrasi minimal lulusan SMA, sementara analis gizi dan admin keuangan diwajibkan lulusan S1,” kata Muhammad Rais.
UMKM lokal juga akan dilibatkan sebagai pemasok kebutuhan bahan baku makanan, sehingga perputaran ekonomi daerah dapat meningkat seiring beroperasinya fasilitas.
Anggaran Mencapai Rp 2 Miliar
Pimpinan pelaksana teknis pembangunan, Abu Hasan, menyebutkan total nilai anggaran pembangunan fisik dan penyediaan fasilitas pendukung mencapai sekitar Rp 2 miliar. Seluruh pendanaan berasal dari Badan Gizi Nasional.
“Pendanaan sepenuhnya disiapkan BGN. Kami hanya memastikan seluruh pekerjaan dilakukan sesuai standar konstruksi dan pelayanan,” tegasnya.


























