MAROS – Gelombang keluhan datang dari sejumlah jamaah yang menggunakan jasa Paotere Tour dan Travel. Mereka menyoroti dugaan buruknya pelayanan, ketidaksesuaian perjanjian awal, hingga perlakuan yang dinilai tidak adil selama perjalanan ibadah, khususnya pada rombongan Bus 161 yang ditangani oleh pembimbing bernama Ach Zulfa.

Sejumlah jamaah menyampaikan bahwa fasilitas yang dijanjikan sejak awal keberangkatan tidak sesuai dengan realisasi di lapangan. Salah satu yang paling disorot adalah persoalan akomodasi hotel. Dalam penyampaian awal, jamaah dijanjikan akan menginap di Hotel Akza Olayan, namun setibanya di lokasi, mereka justru ditempatkan di Hotel Akza Al Maqam yang dinilai memiliki standar berbeda dari yang dijanjikan.

Tak hanya itu, layanan konsumsi juga menjadi keluhan serius. Jamaah mengaku sebelumnya diinformasikan akan mendapatkan makanan dari hotel, namun kenyataannya yang diberikan adalah makanan dari katering, yang menurut mereka tidak sesuai ekspektasi dan nilai paket yang telah dibayarkan.

Keluhan juga mengarah pada dugaan perlakuan tidak adil dari pembimbing rombongan. Ach Zulfa disebut-sebut lebih mengutamakan jamaah tertentu yang memberikan “tip” atau memiliki barang belanjaan lebih banyak. Akibatnya, jamaah lain merasa terabaikan, bahkan dalam hal pengurusan barang pribadi.

Salah satu narasumber, seorang jamaah bernama Ibu Sia, mengungkapkan kekecewaannya melalui komunikasi dengan keluarga. Ia menceritakan bahwa barang bawaan miliknya justru tidak diprioritaskan, bahkan sempat disimpan di tempat yang tidak layak.
“Kurang perhatian sekali. Barang tambahan milik jamaah lain justru didahulukan, sementara koper kami malah disimpan di WC bus saat perjalanan ke Madinah. Ini sangat tidak pantas,” keluhnya.
Lebih lanjut, ia juga mengungkap adanya insiden koper jamaah yang baru ditemukan setelah empat hari karena diduga salah penempatan bus. Hal ini semakin memperkuat dugaan lemahnya manajemen dan pengawasan dari pihak travel.

Nama Ketua Rombongan dari pihak travel, Hj. Rika, juga turut disorot karena dinilai kurang maksimal dalam memperhatikan kondisi jamaah, terutama terkait penempatan hotel yang tidak seragam dan koordinasi yang lemah di lapangan.
Para jamaah berharap agar pihak Paotere Tour dan Travel segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan kinerja pembimbing lapangan. Mereka menilai, jika praktik seperti ini terus dibiarkan, akan merusak kepercayaan masyarakat terhadap biro perjalanan umrah.
Kasus ini pun didorong untuk menjadi perhatian publik sebagai bentuk kontrol sosial, sekaligus peringatan bagi calon jamaah agar lebih selektif dalam memilih travel yang benar-benar amanah dan profesional dalam melayani ibadah suci.






















